Identitasku sebagai seorang Muslim selalu aku bawa kemana-kemana. Orang akan mudah mengenali bahwa aku adalah seorang wanita Muslim. Ya, jilbabku yang selalu dengan indahnya menutupi auratku sejak kelas 1 SMA.
Akhir-akhir ini fenomena Islamophobia semakin menjadi-jadi di Australia. Mulai dari reaksi terhadap Lindt Cafe siege dan kemudian insiden penembakan di Parramatta. Selalu ada rasa was-was di hatiku setiap kali berjalan di area publik di suburb yang mayoritas penduduknya adalah non-Muslim karena tidak jarang juga Muslim (terutama wanita) mengalami tindakan rasis. Alhamdulillah, aku beruntung bekerja di perusahaan yang menjunjung tinggi perbedaan dan memiliki kolega yang memperlakukan aku sama seperti yang lain.
Hari Jumat lalu adalah salah suatu hari dimana aku sangat bangga pada diriku, terutama sebagai seorang Muslim. Manajerku mempersembahkan sebuah penghargaan bagiku di dalam pertemuan business update di kantor di hadapan orang banyak yang mayoritas non-Muslim. Saat itu adalah saat dimana akhirnya aku bisa menunjukkan ke khalayak ramai bahwa orang Islam juga bisa berprestasi. Dan aku tidak perlu banyak bercuap-cuap, cukup aksiku saja yang membuktikannya. Because action is louder than words.
Penghargaan itu aku dapatkan untuk kontribusiku selama hampir satu tahun terakhir. I've been juggling between three things: BAU, adhocs, and volunteering, and never dropping the ball (based on managers' testimonial). Sejujurnya aku merasa kerjaku kurang optimal dibandingkan tahun lalu, tetapi alhamdulillah for everything. Setidaknya aku dihargai lebih dari sekedar gaji. I love my job.
Post a Comment